Wednesday, September 14, 2022

 1.4.a.9.1. Aksi Nyata Modul 1.4 - Forum Berbagi Aksi Nyata

Nama CGP : Suprapto

Angkatan    : 5

Tujuan Pembelajaran Khusus

CGP dapat menyampaikan pembelajaran dari penerapan konsep inti dari modul budaya positif serta pemahaman mereka mengenai konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif.  

 

Beragam cara dapat dilakukan untuk menumbuhkembangkan karakter Profil Pelajar Pancasila kepada murid diantaranya melalui membangun budaya positif yang berorientasi kepada murid, membangun keyakinan atau visi sekolah yang dapat mengembangkan budaya positif murid.

Ki Hadjar Dewantara mengumpamakan sekolah sebagai sebuah ladang tempat persemaian bibit, agar bibit bisa perkembang secara maksimal maka petani dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara bibit tanaman, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup bibit tanaman dan lain sebagainya.

Berdasarkan filosofi di atas, bahwa sekolah sebagai tempat untuk menumbuhkembangkan karakter anak. Apabila selalu dijaga, dirawat, maka anak akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki karakter yang unggul.Guru harus mengusahakan sekolah menjadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Budaya positif perlu terus ditumbuhkembangkan oleh seluruh warga sekolah agar tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan dan mengembangkan karakter Profil Pelajar Pancasila.  

Budaya positif yang di lakukan di sekolah antara lain budaya salam, menjaga kelestarian lingkungan, menaati kesepakatan kelas dan lain-lain.

Dalam mewujudkan budaya positif perlu adanya disiplin positif. Oleh karena itu, kita akan belajar tentang perubahan paradigma belajar, disiplin positif, motivasi perilaku manusia, kebutuhan dasar, posisi kontrol restitusi serta keyakinan kelas dan segitiga restitusi.

a. Perubahan paradigma belajar

Melakukan perubahan yang baik adalah dimulai dari diri sendiri. Guru harus menjadi teladan bagi muridnya di sekolah.

Belajar untuk mempertahankan prinsip yang kita miliki, walaupun penuh dengan godaan. Kalau kita memegang teguh apa yang menjadi keyakinan kita akan tetap dipertahankan. Demikian juga budaya positif akan bisa dilakukan jika seorang guru bisa konsisten memberikan contoh positif kepada murid dan lingkungan sekolah.

b. Disiplin positif

Seseorang yang mempunyai karakter disiplin diri, artinya ia akan bertanggung jawab sepenuh hati atas apa yang ia lakukan  dengan mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Disiplin positif yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap motivasi internal seseorang tersebut, baik dalam berprilaku maupun bersikap sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal.

Tugas seorang pendidik adalah memberikan bimbingan kepada murid untuk mempunyai kesadaran disiplin diri yang berasal dari dirinya. Murid yang melakukan disiplin positif tidak terlepas dari motivasi yang ingin dicapai oleh murid itu sendiri.

c. Motivasi perilaku manusia

Motivasi yang terus ditumbuhkembangkan kepada murid adalah motivasi intrinsik karena memiliki dampak jangka panjang. Selain itu motivasi tersebut tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Murid akan berprilaku baik dan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai.

d. Kebutuhan dasar

Terdapat kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi, antara lain bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, penguasaan, kebebasan, kesenangan. Semua apa yang dilakukan manusia, baik baik atau buruk pada dasarnya mempunyai tujuan. Oleh karena itu, ketika kita sebagai pendidik menghadapi masalah dengan anak, maka perlu kita identifikasi masalahnya terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan dasar yang mungkin belum terpenuhi oleh anak tersebut. Sehingga, kita bisa memberikan solusi yang tepat dengan memberikan kebutuhan dasar yang sesuai dengan anak tersebut.

 e. Posisi kontrol restitusi

Terdapat lima posisi kontrol, antara lain adalah posisi penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau, manajer. Posisi kontrol yang ideal adalah sebagai manajer karena menggunakan pendekatan yang lebih humanis dan pendekatan komunikasi. Posisi kontrol manajer lebih menekankan pada upaya memperbaiki diri dari kesalahan yang telah ia lakukan.

f. Keyakinan kelas dan segitiga restitusi

Lingkungan positif dapat dibangun dari tindakan atau perilaku warganya. Perilaku positif warga kelas akan menjadi kebiasaan, yang pada akhirnya dapat membentuk budaya positif. Agar warga kelas memiliki budaya positif maka yang perlu dilakukan adalah membuat keyakinan atau kesepakatan kelas diantara seluruh warga kelas untuk mendapatkan nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama.

Segitiga restitusi terdiri atas tiga tahapan, yaitu tahap menstabilkan identitas, tahap validasi tindakan yang salah, dan tahap menanyakan keyakinan. Melalui penanganan masalah terkait anak di sekolah dapat menggunakan segitiga restitusi. Melalui segitiga restitusi, maka siswa diberikan kesempatan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ia hadapi.

 

 Contoh Beberapa Aksi Nyata Budaya Positif di Sekolah

 


Gambar. Membuat Kesepakatan Kelas Bersama Siswa



Gambar. Belajar Cinta Lingkungan Hidup



Gambar. Siswa Berliterasi di Pojok Literasi



Gambar. Budaya Salam di Sekolah


Gambar. Berdoa Bersama Sebelum Makan



Tuesday, September 6, 2022

Nama  : Suprapto

CGP    : Angkatan 5 

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Koneksi antar materi Modul 2.1 berisikan kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas. Serta bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Kemudian menjelaskan keterkaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak. 

1) Kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya menggunakan rumus 5W1H atau dalam Bahasa Indonesia menggunakan kata tanya Apa, Siapa, Kapan, Dimana, Bagaimana untuk memperjelas kesimpulan tentang Pembelajaran Berdiferensiasi.

Apa pengertian pembelajaran berdiferensiasi pembelajaran berdiferensiasi?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dan berorientasi pada murid. Berapa hal yang perlu diperhatikan guru terkait pembelajaran diferensiasi antara lain adalah kurikulum, merespon kebutuhan belajar siswa, lingkungan belajar, manejemen kelas, dan penilaian berkelanjutan. Pembelajaran diferensiasi juga memberikan kebebasan kepada siswa untuk  berkreatifitas sesuai dengan potensi dan kebutuhan belajarnya.

Siapa saja yang terlibat dalam pembelajaran berdiferensiasi?

Yang terlibat dalam pembelajaran diferensiasi adalah siswa dan guru. Siswa sebagai pusat pembelajaran dan guru memberikan tuntunan ataun bimbingan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

Kapan mengimplementasikan pembelajaran diferensiasi?

Pada saat proses pembelajaran

Dimana pembelajaran diferensiasi dilaksanakan?

Di kelas

Mengapa kita menerapkan pembelajaran berdiferensiasi?

Pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas tentunyaa mempunyai tujuan tertentu. Demikian pula dengan implementasi pembelajaran berdiferensiasi memiliki beragam tujuan, antara lain:

a. Tujuan pembelajaran didefinisikan secara jelas. Sebelum mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus paham capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran agar dapat menentukan bagaimana ia dapat membantu murid-murid untuk mencapainya.

b. Pembelajaran berdiferensiasi merespon kebutuhan belajar murid. Melalui pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan belajar yang dilakukan dengan melakukan identifikasi kebutuhan belajar, yang menyangkut aspek kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar atau gaya belajar murid.

c. Lingkungan belajar murid yang mengundang siswa untuk belajar. Lingkungan belajar merupakan faktor yang penting untuk memotivasi belajar. Selain lingkungan belajar yang aman dan nyaman untuk belajar, lingkungan belajar sebaiknya juga didesain menjadi beragam sumber belajar.

d.Pembelajaran diferensiasi menjadikan manajemen belajar yang efektif. Melalui manajemen berbasis kebutuhan siswa, maka pembelajaran akan lebih efektif dalam memberikan dan memenuhi kebutuhan siswa. Pembelajaran lebih terarah karena sudah dipetakan berdasarkan kebutuhan siswa.

e. Pembelajaran berdiferensiasi menerapkan penilaian berkelanjutan. Pada pembelajaran berdiferensiasi siswa diberikan kebebasan atau kemerdekaan dalam untuk menentukan sendiri bentuk penilaiannya sesuai dengan bakat, minat dan potensi siswa. Penilaian dilakukan untuk refleksi perbaikan selanjutnya.


2. Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

Pembelajaran diferensiasi dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Oleh karena itu guru harus menggali kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh siswa. Kebutuhan siswa menyangkut 3 aspek, yaitu antara lain:

1. Kesiapan belajar

Kesiapan belajar disebut juga sebagai readiness yaitu bagaimana kesiapan belajar siswa dalam menerima materi baru. Guru memetakan kesiapan siswa, mana siswa yang bisa sudah bisa belajar mandiri dan mana siswa yang masih bergantung pada guru.

2. Minat belajar

Minat belajar adalah kecenderungan belajar siswa. Karena setiap siswa memiliki beragam karakteristik sehingga minat belajar siswa antara yang satu dengan yang lain tentunya juga berbeda.

3. Profil belajar

Profil belajar adalah gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Pendekatan yang di sukai murid pada saat belajar, atau gaya belajar siswa yang  dipengaruhi oleh faktor lingkungan, budaya, visual, auditori dan kinestetik.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi menggunakan tiga stategi pembelajaran diferensiasi, antara lain:

a. Diferensiasi konten, yaitu terkait sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran, antara lain buku, video, PPT, info grafis, artikel Koran dan lain-lain.

b. Diferensiasi proses, yaitu terkait dengan strategi atau model pembelajaran yang dilakukan di kelas pada saat proses pembelajaran.

c. Diferensiasi produk, yaitu produk penugasan yang disesuaikan dengan kemamapuan yang dimiiki oleh siswa. Siswa memiliki kemerdekaan dalam menentukan pilihannya masing-masing.

Pembelajaran berdiferensiasi yang berpusat pada siswa dan kebutuhan belajar murid akan membantu siswa dalam mencapai hasil belajar siswa yang optimal. Asesmen yang dilakukan pada pembelajaran berdiferensiasi adalah bertujuan untuk perbaikan pembelajaran dengan memberikan kemerdekaan siswa dalam menentukan sendiri bentuk penugasan dalam penilainnya. Pembelajaran berdiferensiasi juga memberikan penilaian berkelanjutan dalam upaya membantu siswa mencapai hasil pembelajaran yang optimal.

 

3. Menjelaskan keterkaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

a. Keterkaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD).

 Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara bahwa pembelajaran harus berpihak dan berpusat pada siswa, sehingga dapat berkembang sesuai dengan kekuatan kodratnya masing-masing baik kodrat alam dan kodrat zaman.

b. Keterkaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak  

Bahwa guru penggerak sebagai agen transformasi pendidikan di Indonesia harus mampu mengambil peran dalam sebagai pemimpin pembelajaran yang salah satunya yaitu mengimplementasi pembelajaran berdiferensiasi. Guru harus mampu berkolaborasi dengan teman sejawat dan orang tua siswa dalam rangka mendapatkan informasi untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpihak pada siswa.

c. Keterkaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan Visi Guru Penggerak

Guru penggerak harus memiiki visi membuat perubahan positif dalam pembelajaran yang memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Melalui strategi pendekatan Inquiry Apresiatif (IA) dengan menggunakan tahapan BAGJA maka guru akan menemukan peluang, potensi, dan kekuatan yang dimilikinya untuk mewujudkan Visi tentang murid impiannya. Murid impian salah satu indikatornya adalah terpenuhinya kebutuhan belajarnya.

d. Keterkaitan antara pembelajaran berdiferensiasi dengan Budaya Positif

Guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran harus membawa perubahan nyata dan membentuk atmosfir lingkungan yang positif, terutama baik di kelas ataupun di sekolah. Dalam implemetasi pembelajaran berdiferensiasi guru penggerak harus mampu mendorong dan menjadi teladan perubahan budaya positif khususnya bagi siswanya di kelas. Lingkungan belajar positif akan terwujud jika semua komunitas belajar menerapkan budaya positif yang lahir dari motivasi internal masing-masing.

Semoga Bermanfaat

Salam Bahagia

 

Thursday, August 25, 2022

1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4 Budaya Positif

PENDIDIKAN CALON GURU PENGGERAK 
NAMA CGP : SUPRAPTO
ANGKATAN: 5


Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan  sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak!

Dalam upaya mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada siswa maka perlu dibangun lingkungan belajar yang menerapkan budaya positif. Oleh karena itu peran kita sebagai Guru Penggerak adalah sebagai transformasi pendidikan dengan melakukan perubahan budaya positif di lingkungan sekolah/kelas. Hal tersebut relevan dengan pengalaman/materi pembelajaran yang telah diperoleh pada modul 1.4 Budaya Positif.

Budaya positif dapat dilaksanakan jika semua warga sekolah/kelas penuh kesadaran melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan disiplin. Sikap disiplin dibangun berdasarkan keyakinan kepada nilai-nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap individu. Melalui nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka akan terbangun dengan sendirinya motivasi intrinsiknya dalam diri seseorang tersebut, sehingga dapat menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan.

Motivasi perilaku manusia pada dasarnya ada tiga yaitu, menghindari ketidaknyamanan/hukuman, mendapatkan imbalan dan menghargai diri sendiri. Motivasi yang diharapkan sesuai dengan tujuan disiplin positif adalah untuk menghargai diri sendiri. Salah satu bentuk cara memunculkan motivasi interen adalah melalui posisi Manager dengan menerapkan Restitusi.

Restitusi adalah upaya memperbaiki diri dari kesalahan yang dilakukan serta anak akan dibimbing mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Melalui restitusi anak dibimbing melalui tahapan antara lain menstabilkan identitas, validasi kebutuhan dan menanyakan keyakinan. Melalui restitusi siswa diajak melakukan reffleksi terhadap kesepakatan kelas/sekolah yang telah dibuat bersama. 

Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara adalah memberikan tuntunan kepada anak sehingga anak bisa berkembang sesuai dengan kekuatan kodratnya masing-masing, yaitu kodrat alam dan kodrat zaman.  Oleh karena itu, Nilai dan Peran Guru Penggerak sangat diharapkan untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan sekolah yang dituangkan melalui Visi Guru Penggerak. Visi Guru Penggerak  dapat berjalan dengan baik apabila warga sekolah melasanakan budaya positif dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Disiplin positif yaitu menanamkan motivasi intrinsik pada diri anak sehingga anak dapat menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percayai tanpa terpengaruh oleh faktor dari luar, seperti hukuman atau hadiah sehingga memiliki pengaruh jangka panjang dalam membentuk karakter disiplin positif.

Teori kontrol yaitu bahwa pada dasarnya kita memegang kontrol atas diri kita. Kita melakukan kontrol sesuai dengan kebutuhan dasar kita saat itu.  Bahwa terdapat 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol antara lain Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer. Namun posisi Manajer menjadikan anak Merdeka dalam memberikan solusi atas kesalahan yang ia lakukan melalui bimbingan guru.

Teori motivasi yaitu bahwa melakukan suatu kegiatan atas dorongan lingkungan ataupun orang lain. Terdapat 3 motivasi perilaku manusia antara lain Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Namun dari ketiga motivasi tersebut yang berdampak positif adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya karena motivasi ini muncul dari dalam diri anak (motivasi interen) sehingga anak memiliki disiplin positif.

Hukuman dan Penghargaan. Hukuman bersifat satu arah. Guru yang memberikan dan anak yang menerima tanpa melalui kesepakatan bersama. Bentuk hukuman berupa fisik atau psikis yang biasanya akan selalu membekas pada diri anak. Penghargaan adalah merupakan salah satu bentuk motivasi eksternal yang mendorong anak melakukan sesuatu. Penghargaan pada dasarnya akan melemahkan potensi anak karena melakukan sesuatu bukan dari dalam diri anak tapi karena mengharapkan akan mendapatkan sesuatu.

Posisi kontrol guru adalah posisi mengontrol anak sehingga anak mau melakukan apa yang guru inginkan. Terdapat 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru antara lain  Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.

Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan dasar yang harus terpenuhi oleh manusia. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya mempunyai tujuan dalam memenuhi kebutuhan dasar pada diri manusia, terlepas apa yang dilakukan oleh manusia merupakan hal yang baik dan buruk. Terdapat lima kebutuhan dasar manusia, antara lain bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, kebebasan, kesenangan, dan penguasaan.

Keyakinan kelas merupakan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Nilai-nilai kebajikan ini dapat dipelajari dalam profil pelajar pancasila.

Segitiga restitusi adalah memberi ruang pada siswa untuk memperbaiki diri dari kesalahan yang telah dilakukan dan mencari solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Langkah segitiga restitusi antara lain menstabilkan identitas, validasi tindakan dan menanyakan keyakinan.

Hal yang menarik dan diluar dugaan bahwa:
Jika ditelaah lebih mendalam antara modul 1.4 Budaya Positif mempunyai saling keterkaitan dengan modul 1.2 Filosofi Pendididikan Ki Hadjar Dewantara dan modul 1.3 Visi Guru Penggerak.
Membangun budaya positif dimulai dari dalam diri. Budaya positif akan dapat dilakukan secara terus menerus apabila dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan.
Posisi penghukum tidak relevan untuk memecahkan masalah. Namun yang lebih tepat adalah posisi Manajer karena terdapat penguatan-penguatan di dalamnya, anak diajak berkomunikasi untuk mencari solusi.
Pemberian penghargaan tidak akan memunculkan motivasi intrinsik pada diri siswa sehingga dapat mematikan potensi anak karena anak akan melakukan sesuatu karena faktor dari luar atau bukan dari dalam diri anak.

Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Pada awalnya berpikir menghukum (Posisi Menghukum) adalah salah satu solusi memecahkan masalah untuk mendisiplinkan siswa. Tapi pada kenyataannya menghukum malah menimbulkan masalah baru dari akibat yang ditimbulkan pada anak, seperti anak menjadi rendah diri, pemalu, tidak percaya diri dan lain-lain. Akhirnya muncul perubahan paradigma setelah mempelajari modul ini bahwa perlu dibangun keyakinan kelas terlebih dahulu sehingga muncul motivasi intrinsik dalam diri siswa. Sehingga motivasi intrinsik yang muncul pada diri siswa mendorong dengan penuh kesadaran melaksanakan kesepakatan kelas. Selanjutnya mengimplementasikan budaya positif dengan mengambil posisi sebagai manager melalui tahapan Segitiga-Restitusi sehingga siswa dibimbing untuk mencari alternatif solusi dari permasalahan yang dihadapinya dan dengan kesadaran mau memperbaiki diri.

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Pengalaman yang pernah saya alami terkait materi modul yang saya peroleh adalah menerapkan budaya positif dilingkungan kelas/sekolah. Melakukan praktik baik bersama siswa tentang bagaimana membuat kesepakatan kelas serta mengambil posisi manager, menerapkan segitiga-restitusi yang dihubungkan dengan lima kebutuhan dasar manusia ketika menghadapi permasalahan dengan siswa. Bahwa setiap kegiatan baik ataupun buruk pasti mempunyai tujuan tertentu. Oleh karena itu, perlu meninjau kembali permasalahan yang dilakukan siswa. Mungkin hal tersebut karena ada salah satu kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, antara lain: bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, kebebasan, kesenangan, dan penguasaan. Contoh pengalaman yang dilakukan adalah membuat kesepakatan kelas dengan siswa.

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut? Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Perasaan atau emosi yang dialami terkait pengalaman belajar adalah sangat senang sehingga muncul ide-ide dan motivasi dalam diri saya untuk memperbaiki diri terutama dalam menangani masalah yang dihadapi oleh siswa yang selama ini kurang tepat.
Keadaan yang sudah baik berkaitan dengan penerapan konsep-konsep dalam proses belajar adalah telah melakukan komunikasi dan pendekatan serta menjalin hubungan yang baik dengan siswa.
Sedangkan yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan dirinya dalam proses belajar yaitu membangun keyakinan bersama serta memberikan pemahaman kepada siswa sehingga muncul motivasi intern dalam diri siswa untuk dapat mengontrol dirinya sendiri. 
Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi bahwa membangun budaya positif di lingkungan sekolah akan membantu terhadap peningkatan kompetensi dan kematangan secara individu. Warga sekolah yang berkolaborasi menerapkan disiplin positif dapat berdampak pada suasana lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa. 

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Sebelum mempelajari modul ini, posisi kontrol yang paling sering saya pakai adalah Posisi Penghukum. Perasaan saya pada saat itu adalah bahwa kecewa, marah dan jengkel terhadap siswa yang sering melanggar aturan kelas/sekolah. Setelah mempelajari modul ini, posisi yang saya pakai adalah sebagai Manager. Perasaan sekarang adalah lebih komunikatif, berbicara dengan nada yng rendah dan senang membimbing siswa sehingga menemuakna solusinya.
Perbedaanya adalah sangat berbeda sekali. Ketika menjadi posisi penghukum, saya bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Peraturan dibuat hanya sepihak dari pihak guru/sekolah. Ketika menjadi posisi manager saya dan siswa berkomunikasi dan berkolaborasi bersama dengan siswa. Siswa diberika ruang untuk mempertanggungkan permasalahannya sendiri, menuntun siswa mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapinya.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Sebelum mempelajari modul ini saya belum pernah menerapkan segitiga restitusi. Setelah mempelajari modul ini baru memahami tentang segitiga restitusi dan mulai kedepan belajar mengimplementasikannya melalui aksi nyata di kelas/sekolah.

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Ada, yaitu nilai-nilai budaya sekolah. Nilai budaya sekolah adalah nilai kebajikan yang dilaksanakan oleh warga sekolah sebagai ciri dan karakter sekolah. Mengingat sekolah tempat saya bertugas adalah sekolah adiwiyata yaitu sekolah yang melaksanakan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah maka kegiatan yang dilakukan sekolah terintegrasi kepada budaya cinta lingkungan hidup, seperti pengelolaan sampah, konservasi air, pengintegrasian cinta lingkungan hidup dengan pembelajaran di sekolah dan lain-lain.


Berikut disajikan Tabel Rancangan Aksi Nyata Modul 1.4 Buadaya Positif! 




Semoga bermanfaat.

Terima kasih salam sehat dan salam bahagia untuk kita semua.

 

Tuesday, May 12, 2020

CLASSROOM GOOGLE SUITE FOR EDUCATION (GSE)

Manajemen Akun Classroom Google Suite For Education


Tutorial Langkah-langkah Manajemen Akun Google Suite for Education (GSE)


1. Aktivasi e-mail Google Suite for Education (GSE)

2. Cara bergabung guru dan siswa ke Classroom Google Suite for Education (GSE)

3. Membuat Classroom dan menampilkan fitur Meet pada Google Suite for Education (GSE)

4. Membuat absen online sederhana Google Suite for Education (GSE)

5. Setting absen online siswa agar bisa dipakai secara terus menerus dan menyajikan materi pembelajaran pada Google Suite for Education (GSE)

6. Membuat soal atau quiz online di Google Suite for Education (GSE)
https://www.youtube.com/watch?v=M3KjgPZ9zFw&feature=youtu.be

7. Membuat penugasan melalui Assignment dan Question di Classrom G-Suite For Education
https://www.youtube.com/watch?v=4yh-mJM5lJc&feature=youtu.be

Jangan lupa tekan tombol like dan suscribe pada tayangan tutorial di atas jika memberikan manfaat pada Anda.


Selamat bertransformasi di era digital, selalu berinovasi dan tetap semangat memajukan pendidikan di Indonesia
                                                                                                       

Implementasi Kelas Inspirasi pada Pembelajaran Virtual Home Learning

































https://lpmpdki.kemdikbud.go.id/implementasi-kelas-inspirasi-pada-pembelajaran-virtual-home-learning/

Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Nama  : Suprapto CGP     : ...